Belajar untuk Belajar

Belajar dan pembelajaran adalah sebuah proses manusia untuk bertumbuh. Namun proses pembelajaran secara umum boleh dikata tidak banyak berubah dan bertumbuh sejak masa revolusi industri. Cara kita belajar dan mengajar di kelas hanya sedikit saja berubah. Walapun penemuan dalam ilmu pengetahuan khususnya neurosains, semakin hari semakin menunjukkan apa yang efektif dan tidak efektif untuk kita lakukan dalam proses belajar.  Umumnya sistem tidak banyak berubah.

Betapapun dunia Pendidikan merasa sudah sangat jauh melangkah, nampaknya lonceng sains semakin kencang saja meneriaki arah jalan itu dan mulai lebih lantang berkata bahwa kita sedang berjalan ke arah yang salah. Semakin hari dunia pendidikan semakin memperbesar kelompok anak-anak yang menyebut diri sebagai “saya bukan orang metematika”, “saya buka orang bahasa”, “saya bukan orang eksakta”, dan sebagainya. Hal ini hanya menggambarkan semakin hari proses belajar semakin tidak menggairahkan. Justru memproduksi label-label diri yang sangat merusak dan membatasi.

Growth Mindset

Kesalahan informasi pada era Fixed-mindset terus berlanjut, sehingga tidak heran jika sebagaian besar guru, professor, orang tua mempercayai bahwa hanya sebagain orang yang dapat mempelajari beberapa bidang saja. Karena begitu pula mereka sebelumnya dididik. Gagasan fixed-mindset ini, yang melabeli sebagaian orang bisa dan sebagian orang tidak bisa, telah menjadi pondasi yang kokoh dalam sistem pendidikan kita.

Sampai kemudian temuan Michael Merzenich seroang neurosaintis tentang Neuoraplastisitas menjadi jawaban yang gamblang tentang mitos lama bahwa kapasitas sesorang dalam belajar sesuatu hal baru memang terbatas, sudah tetap dari sono nya. Walau penelitian Merzenich dkk sebatas dilakukan pada otak monyet, penelitian awal tentang neuroplastisitas ini pada intinya mengungkap bahwa, “kualitas otak kita yang terpenting adalah kemampuannya beradaptasi dan potensinya untuk berubah dan bertumbuh”.

Carol S. Dweck, professor psikologi di Stanford University telah menyadarkan kita bahwa secara umum di masyakat kita telah berkembang dua mindset yang sangat bertolak belakang, fixed-mindset dan growth-mindset.  Kelompok fixed-mindset atau yang bisa diartikan sebagai kelompok mindset tetap, merupakan sebuah penggambaran tentang orang-orang yang percaya bahwa kualitas, kecerdasan, atau bakat mereka merupakan sifat yang sudah tetap, tidak dapat berubah.  Mereka percaya bahwa kecerdasan serta bakat tidak perlu dikembangkan lagi. Sementara, kelompok  growth-mindset, berkeyakinan dasar bahwa kecerdasan mereka dapat terus berkembang seiring dengan waktu, usaha, serta ketekunan. Dweck menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana seharusnya kita, masyarakat harus mengembangkan mindset tumbuh untuk kualitas kehidupan yang lebih baik. Cara kita melihat diri sendiri dan orang lain sudah seharusnya bergeser pada growth-mindset.

Tidak hanya berhenti di sini. Hasil pengungkapan ini oleh beberapa peneliti menjadi landasan praktik mereka dalam mengembangkan proses pembelajaran. Salah satunya misalnya Jo Boaler, profesor matematika Starnford University. Jo Bolaer dkk menerima anak-anak SMU yang hampir semua mengaku sebagai “bukan orang matematika”. Kemudian kelompok pemuda tersebut diberikan pendidikan matematika selama 18 hari dengan pendekatan neurosains. Setelah menerapkan pendekatan-pendekatan neuorasains dalam pembelajaran metematika, hasilnya kompetensi para pembelajar meningkat hingga 50 persen, setara dengan proses belajar 2,6 tahun.

Meluaskan ruang kesalahan di dalam kelas

Riset dan sains telah beralih dari era fixed-mindset, namun sistem Pendidikan, model-model sekolah berbasis fixed-mindset dan keterbatasan masih bertahan.  Sebagai contoh kecil namun penting, masih sulit untuk meluaskan ruang kesalahan di kelas kita. Meskipun menurut penelitian muthakir “pada saat-saat kita menghadapi kesulitan dan melakukan kesalahan, adalah saat terbaik untuk pertumbuhan otak”. Mengalami kesulitan dan membuat kesalahan adalah penting dalam pembelajaran.  Sains tentang keasalahan ini sebagaimana dijelaskan oleh Carol Dweck sendiri, pada saat kita membuat kesalahan, sinaps-sanaps terbakar dalam otak, mengindikasikan pertumbuhan otak.

Miskipun para pendidik mengetahui kebenaran ini, jebakan sistem menjadi tantangan yang sulit baginya.  Para pendidik (guru/ dosen) sulit mengakomodasi perihal ini ketika mereka sendiri berada dalam sistem yang memaksa mereka untuk memberi penalti setiap kali para murid melakukan kesalahan dalam tes. Umumnya semua kelas kita dirancang agar semua orang berhasil. Meskipun kita sudah mengetahui bahwa menjawab soal dengan benar bukanlah latihan otak yang bagus.

Saya sendiri punya pengalaman yang akhirnya cukup untuk menarik kesimpulan apa arti sebuah tes ujian akhir.  Saat masih mahasiswa, saya berkesempatan kerja magang  di salah satu perusahan telko terbesar, dibimbing oleh seorang asisten manajer untuk mengerjakan pengolahan data-data trafik telkomunikasi yang menurut saya sangat rumit. Namun sang pembimbing begitu piawai memberi penjelasan dan menunjukkan saya buku panduan cara mengolah data-data tersebut. Hal yang saya terkejut adalah, Pembimbing Lapangan saya yang pakar ini berseloroh, dulu perolehan nilai mata kuliah terkait subyek trafik ini hanya C, cukup untuk sekedar lulus saja. Padahal dalam takaran saya saat ini sebagai dosen, kemampuan Pembimbing saya saat saya magang seharusnya melampaui A plus. Tapi memang seperti itulah nilai ujian, hanya menilai sesaat yang terkadang saat dimana seseorang belum paham. Setelah bertumbuh dan menjadi paham transkripnya tidak berubah, mirip potret monokrom masa lalu.

Ada banyak lagi hal-hal penting dalam ruang pendidikan kita yang seharusnya kita tinjau dan ubah berdasar temuan-temuan sains terbaru. Namun tulisan saya ini hanya sebagai prolog. Pada kesempatan selanjutnya tulisan saya akan banyak menyinggung hal-hal tersebut.

Pada akhirnya saya setuju sebagaimana dikatakan oleh Ravi Kumar, Presiden Infosys:

Kita perlu belajar untuk belajar, belajar untuk mengesampingkan yang sudah kita ketahui, dan belajar untuk belajar ulang”.

Salam pembelajar sejati.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *